Teror Smallpox Di Era Awal Kemunculan Hingga Masa Klasik

Teror Smallpox Di Era Awal Kemunculan Hingga Masa Klasik – Smallpox alias cacar air adalah salah satu momok terbesar dalam sejarah manusia. Penyakit ini, yang menyisakan bintik ruam khas lalu berkembang menjadi lepuh yang berisi nanah dan dapat mengakibatkan disfigurasi, kebutaan, hingga kematian, merupakan penyakit yang dikenal di kala itu sebagai wabah hukuman dewa dewa atau Tuhan bagi manusia, hingga jadi peningkat keimanan mereka pada sang gaib. Wabah ini pertama kali muncul di permukiman pertanian di Afrika timur laut sekitar 10.000 SM kemudian, pedagang Mesir menyebarkannya dari sana ke India.

Bukti awal dari lesi smallpox pada kulit telah ditemukan pada wajah mumi-mumi dari dinasti Mesir kedelapan belas dan kedua puluh, dan pada mumi Firaun Ramses V yang meninggal pada tahun 1157 SM bintik ini bertahan ribuan tahun pada kulit mumi. Epidemi smallpox yang tercatat pertama kali terjadi pada tahun 1350 SM, selama Perang Mesir-Het.

pada 430 SM, tahun kedua Perang Peloponnesia, smallpox melanda Athena dan menewaskan lebih dari 30.000 orang, mengurangi populasi kota itu hingga 20 persen. Thucydides, seorang aristokrat Athena, memberikan laporan yang mengerikan tentang epidemi ini, menggambarkan orang mati terbaring tanpa dikubur, kuil-kuil penuh dengan mayat.

Thucydides sendiri menderita penyakit itu, tetapi ia selamat dan terus menulis kisah bersejarahnya tentang Perang Peloponnesia. Dalam karya ini, ia mencatat bahwa mereka yang selamat dari penyakit itu kemudian kebal terhadapnya. Dia menulis, “yang sakit dan yang sekarat cenderung disayangi oleh mereka yang telah sembuh, karena mereka tahu jalannya penyakit dan diri mereka sendiri bebas dari kekhawatiran. Karena tidak ada yang pernah diserang untuk kedua kalinya, atau tidak dengan hasil yang fatal. ” Orang-orang Athena ini menjadi kebal terhadap wabah.

Athena adalah satu-satunya kota Yunani yang dilanda wabah itu, tetapi Roma dan beberapa kota Mesir terkena dampaknya. Smallpox kemudian melakukan perjalanan di sepanjang rute perdagangan dari Carthage. Pada 910, Rhazes (Abu Bakar Muhammad Bin Zakariya Ar-Razi, 864-930 C.E.) memberikan deskripsi medis pertama tentang smallpox, mendokumentasikan bahwa penyakit tersebut ditularkan dari orang ke orang. Penjelasannya tentang mengapa orang yang selamat dari smallpox tidak menderita penyakit ini untuk kedua kalinya adalah teori pertama tentang kekebalan tubuh yang dipelajari oleh ilmuwan persia tersebut.

Pola penularan penyakit seringkali paralel dengan perjalanan carrier atau pembawa wabah dengan rute migrasi manusia. Penyakit yang awalnya ada di Asia dan Afrika menyebar ke Eropa selama Abad Pertengahan. Smallpox lalu dibawa ke Amerika karena kedatangan penjajah Spanyol pada abad ke lima belas dan keenam belas, menularkan wabah itu ke indigenus lokal, seperti orang Inca, Aztec, atau suku-suku Amerika lain. Dalam hal ini secara luas diakui bahwa infeksi smallpox menewaskan lebih banyak orang Aztec dan Inca daripada mereka mati oleh peluru atau bayonet orang Spanyol, smallpox membantu kehancuran kekaisaran Inca dan Aztec.

Smallpox terus membinasakan Eropa, Asia, dan Afrika selama berabad-abad. Di Eropa, menjelang akhir abad kedelapan belas, penyakit ini menyebabkan hampir 400.000 kematian setiap tahun, termasuk korbannya, adalah lima raja. Dari mereka yang selamat, sepertiga mengalami buta. Jumlah kematian di seluruh dunia sangat mencengangkan dan terus berlanjut hingga abad kedua puluh, di mana kematian diperkirakan 300 hingga 500 juta. Jumlah ini jauh melebihi total gabungan kematian dalam semua perang di dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!