Apa Masih Ada Smallpox Di Dunia Ini?

Apa Masih Ada Smallpox Di Dunia Ini? – Cacar atau Smallpox adalah sejenis virus akut dan menular yang pernah ada dan bisa menghancurkan populasi manusia, baik secara historis maupun secara futuris. Mengapa secara futuris? Ya. Dengan kekhawatiran tentang adanya bioterorisme yang makin meningkat pada akhir abad ke-20, beberapa orang bertanya-tanya apakah virus ini masih ada. Jawaban singkatnya adalah ada, banget, tapi jawaban panjangnya sedikit lebih rumit. Melibatkan segmen orang-orang tidak tercerahkan, teroris, perusahaan besar penjual vaksin, dan para antivaksin.

Smallpox, disebabkan oleh virus variola yang menyebabkan seseorang mengalami demam dan ruam kulit. Tiga dari 10 orang yang kena smallpox bisa meninggal dunia. Walau banyak yang selamat, mereka meninggalkan bekas bintik permanen, sering lukanya tersisa di wajah, merusak penampilan. Melalui vaksinasi, penyakit ini diberantas habis pada tahun 1980. Namun, penelitian untuk vaksin, obat-obatan dan vaksin smallpox yang efektif terus dilanjutkan bahkan ada yang gunakan sebagai senjata bioterror.

Kasus smallpox terakhir diteliti pada tahun 1978, setahun kemudian disembuhkan. Pada tahun 1980, Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan bahwa smallpox telah diberantas. Saat ini, tidak ada klaim penularan smallpox yang terjadi di seluruh dunia. Meskipun program imunisasi di seluruh dunia telah memberantas penyakit ini beberapa dekade lalu, masih ada sejumlah kecil penetrasi tercatat muncul di Atlanta, Georgia, dan di Rusia, Indonesia, Singapura, dan banyak negara lain dalam skala kecil.

Pada tahun 1967, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan kampanye global untuk menghilangkan smallpox melalui vaksinasi. Banyak karyawan WHO berkeliling dunia, mencari kasus penyakit yang terjadi secara alami dan memvaksinasi populasi di sekitarnya untuk mencegah penyebarannya. Pada tahun 1979, WHO mengumumkan bahwa kasus smallpox terakhir telah didokumentasikan, secara efektif mereka mengaku mengalahkan penyakit itu. Namun, beberapa laboratorium mempertahankan sampel penyakit untuk digunakan dalam penelitian dan pengembangan vaksin.

Para ilmuwan berpendapat bahwa sampel virus smallpox hidup di laboratorium tidak boleh dimusnahkan, karena suatu hari nanti mungkin diperlukan untuk penelitian. Misalnya, jika seseorang berhasil merekayasa smallpox, boleh jadi dia bisa ciptakan virus yang bisa bertahan hidup dari vaksin 1979, tentu itu akan menimbulkan ancaman bioterorisme yang serius. Selain itu, virus smallpox hasil rekayasa berpotensi berkembang menjadi penyakit fatal, untuk itulah butuh labotorium “baik” untuk jadi lawan para bioteroris, dan sangat berguna untuk mengembangkan vaksin.

Apa Masih Ada Smallpox Di Dunia Ini?

Akhirnya, disepakati bahwa dua laboratorium akan menyimpan sampel smallpox murni, satu di Amerika Serikat dan satu di Rusia. Stok vaksin Amerika berlokasi di markas Centres for Disease Control (CDC) di Atlanta, Georgia, tempat virus itu dijaga ketat dan secara berkala diperiksa integritasnya. Stok Rusia disimpan di Siberia, di Pusat Penelitian Vektor Negara untuk Virologi dan Biotek, dan sampel ini juga dijaga ketat, meskipun beberapa organisasi internasional telah mengajukan pertanyaan tentang keamanan di lokasi tersebut.

Beberapa ilmuwan juga khawatir bahwa negara-negara lain boleh jadi memiliki sampel virus murni, atau mereka memiliki akses ke vaksininsasi, yang membawa reservoir kecil DNA yang dapat diurutkan. Beberapa sampel ini mungkin juga didapatkan karena kebocoran akibat masalah keamanan. Pada 1990-an, problematika ini membuat kekhawatiran global tentang bioterorisme meningkat, karena sebagian pemain judi bola online yang merupakan anggota situs judi online yang memiliki populasi yang sangat besar belum divaksinasi. Lagipula vaksin tidak akan bertahan seumur hidup, sehingga sebagian besar populasi dunia masih rentan, ditambah pula dengan munculnya kaum anti vaksin di mana-mana.

Gejala-gejala Smallpox Yang Mesti Diwaspadai

Smallpox Yang Mesti Diwaspadai

Gejala-gejala Smallpox Yang Mesti Diwaspadai – Smallpox atau cacar, penyakit yang disebabkan oleh virus variola, adalah salah satu pembunuh terbesar dalam hal penyakit sepanjang sejarah, jumlah kematian akibat penyakit ini, mencapai miliaran dan proses pencabutan nyawa oleh virus ini berlangsung selama 12 ribu tahun di seluruh dunia, hingga akhirnya virus bisa dikendalikan pada tahun 1978.

Gejala-gejala smallpox termasuk demam, pegal-pegal, dan timbulnya pustula di kulit, yang keropos dan sering meninggalkan bekas luka yang menodai tubuh dan membekas permanen. Smallpox, juga dikenal sebagai variola, diyakini telah dihilangkan melalui kampanye vaksinasi yang berhasil, kecuali beberapa sampel disimpan di laboratorium yang terkunci dan dijaga sepasukan bersenjata.

Perjalanan penyakit ini dalam tubuh manusia dimulai dengan masa inkubasi, yang biasanya berlangsung selama 12-14 hari. Dalam jelang waktu ini tidak ada gejala smallpox yang terlihat dan individu tersebut tidak menularkan penyakitnya. Lalu diikuti oleh gejala seperti flu: demam tinggi, sakit, dan kadang-kadang muntah dalam dua hingga empat hari.

Segera setelah itu, ruam bintik-bintik merah muncul di wajah dan di hidung dan mulut. Ini menyebar ke tangan dan kaki, lalu ke seluruh tubuh hanya dalam beberapa hari. Tak lama setelah itu, bintik-bintik merah datar berubah menjadi pustula terangkat lalu terisi dengan cairan dan membentuk kawah atau depresi pada kulit. “Smallpox” pada istilah smallpox mengacu pada lesi ini. Setelah sekitar dua minggu bertahan dari ruam, benjolan tersebut lantas melilit. Keropeng kemudian jatuh, meninggalkan bekas luka. Jika individu bertahan sampai semua keropeng berjatuhan, mereka para korban kemungkinan besar bebas dari penyakit dan tidak lagi menularkannya.

Smallpox memiliki dua bentuk: variola mayor dan variola minor. Keduanya sejenis, kecuali bahwa dalam kasus variola mayor gejala smallpox jauh lebih parah. Secara keseluruhan, tingkat fatalitas variola mayor adalah sekitar 30%; tingkat fatalitas variola minor adalah sekitar 1%. Variola mayor dapat dibagi lagi menjadi empat kategori: biasa, dimodifikasi, rata, dan hemoragik.

Smallpox yang dimodifikasi terjadi pada individu yang telah divaksinasi, dan biasanya kurang parah. Dengan smallpox pipih, bercak smallpox tetap rata dan lembut daripada berkembang menjadi tonjolan keras dan kasar. Smallpox hemoragik disertai dengan perdarahan masif ke epiderm kulit dan lantas muncul selaput lendir, yang dapat terjadi sebelum atau setelah munculnya ruam. Smallpox datar dan hemoragik hampir selalu berakibat fatal pada nyawa manusia.

Smallpox diyakini hanya mempengaruhi manusia, dan tampaknya tidak ada kelompok manusia dengan kekebalan alami terhadap penyakit tersebut. Tidak ada pengobatan yang berhasil untuk smallpox yang pernah ditemukan, tetapi proses vaksinasi ditemukan pada awal abad ke-18 oleh dokter Yunani, bernama Emanuel Timoni. Semenatra Edward Jenner, seorang berkebangsaan Inggris, berhasil menghasilkan vaksin yang jauh lebih layak menggunakan virus smallpox sapi pada akhir abad tersebut.

Pada abad ke-20, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melakukan kampanye perang besar-besaran untuk memberantas smallpox menggunakan vaksinisasi terfinalkan. Pasien terakhir yang berasal dari anggota agen sbobet terpercaya diketahui menunjukkan gejala smallpox di luar lab ditemukan pada tahun 1977, di Somalia. Vaksinasi luas untuk smallpox saat ini tidak lagi terjadi. Walau demikian, beberapa orang masih khawatir penyakit itu dapat muncul kembali ke dunia sebagai senjata biologis, mengutip eksperimen Perang Dunia II oleh NAZI untuk melakukan hal kotor itu. Untuk alasan ini, pemerintah Rusia dan Amerika Serikat menyimpan sampel penyakit untuk melakukan penelitian demi masa depan.

Teror Smallpox Di Era Awal Kemunculan Hingga Masa Klasik

Teror Smallpox Di Era Awal Kemunculan Hingga Masa Klasik – Smallpox alias cacar air adalah salah satu momok terbesar dalam sejarah manusia. Penyakit ini, yang menyisakan bintik ruam khas lalu berkembang menjadi lepuh yang berisi nanah dan dapat mengakibatkan disfigurasi, kebutaan, hingga kematian, merupakan penyakit yang dikenal di kala itu sebagai wabah hukuman dewa dewa atau Tuhan bagi manusia, hingga jadi peningkat keimanan mereka pada sang gaib. Wabah ini pertama kali muncul di permukiman pertanian di Afrika timur laut sekitar 10.000 SM kemudian, pedagang Mesir menyebarkannya dari sana ke India.

Bukti awal dari lesi smallpox pada kulit telah ditemukan pada wajah mumi-mumi dari dinasti Mesir kedelapan belas dan kedua puluh, dan pada mumi Firaun Ramses V yang meninggal pada tahun 1157 SM bintik ini bertahan ribuan tahun pada kulit mumi. Epidemi smallpox yang tercatat pertama kali terjadi pada tahun 1350 SM, selama Perang Mesir-Het.

pada 430 SM, tahun kedua Perang Peloponnesia, smallpox melanda Athena dan menewaskan lebih dari 30.000 orang, mengurangi populasi kota itu hingga 20 persen. Thucydides, seorang aristokrat Athena, memberikan laporan yang mengerikan tentang epidemi ini, menggambarkan orang mati terbaring tanpa dikubur, kuil-kuil penuh dengan mayat.

Thucydides sendiri menderita penyakit itu, tetapi ia selamat dan terus menulis kisah bersejarahnya tentang Perang Peloponnesia. Dalam karya ini, ia mencatat bahwa mereka yang selamat dari penyakit itu kemudian kebal terhadapnya. Dia menulis, “yang sakit dan yang sekarat cenderung disayangi oleh mereka yang telah sembuh, karena mereka tahu jalannya penyakit dan diri mereka sendiri bebas dari kekhawatiran. Karena tidak ada yang pernah diserang untuk kedua kalinya, atau tidak dengan hasil yang fatal. ” Orang-orang Athena ini menjadi kebal terhadap wabah.

Athena adalah satu-satunya kota Yunani yang dilanda wabah itu, tetapi Roma dan beberapa kota Mesir terkena dampaknya. Smallpox kemudian melakukan perjalanan di sepanjang rute perdagangan dari Carthage. Pada 910, Rhazes (Abu Bakar Muhammad Bin Zakariya Ar-Razi, 864-930 C.E.) memberikan deskripsi medis pertama tentang smallpox, mendokumentasikan bahwa penyakit tersebut ditularkan dari orang ke orang. Penjelasannya tentang mengapa orang yang selamat dari smallpox tidak menderita penyakit ini untuk kedua kalinya adalah teori pertama tentang kekebalan tubuh yang dipelajari oleh ilmuwan persia tersebut.

Pola penularan penyakit seringkali paralel dengan perjalanan carrier atau pembawa wabah dengan rute migrasi manusia. Penyakit yang awalnya ada di Asia dan Afrika menyebar ke Eropa selama Abad Pertengahan. Smallpox lalu dibawa ke Amerika karena kedatangan penjajah Spanyol pada abad ke lima belas dan keenam belas, menularkan wabah itu ke indigenus lokal, seperti orang Inca, Aztec, atau suku-suku Amerika lain. Dalam hal ini secara luas diakui bahwa infeksi smallpox menewaskan lebih banyak orang Aztec dan Inca daripada mereka mati oleh peluru atau bayonet orang Spanyol, smallpox membantu kehancuran kekaisaran Inca dan Aztec.

Smallpox terus membinasakan Eropa, Asia, dan Afrika selama berabad-abad. Di Eropa, menjelang akhir abad kedelapan belas, penyakit ini menyebabkan hampir 400.000 kematian setiap tahun, termasuk korbannya, adalah lima raja. Dari mereka yang selamat, sepertiga mengalami buta. Jumlah kematian di seluruh dunia sangat mencengangkan dan terus berlanjut hingga abad kedua puluh, di mana kematian diperkirakan 300 hingga 500 juta. Jumlah ini jauh melebihi total gabungan kematian dalam semua perang di dunia.

Masa Perlawanan Manusia Terhadap Virus Smallpox

Masa Perlawanan Manusia Terhadap Virus Smallpox – Asal usul smallpox atau cacar air tidak bisa diketahui. Kita hanya bisa memperkirakan bahwa Smallpox berasal dari Afrika, lebih tepat lagi Afrika Utara, pada masa peradaban Mesir kuno sekitar milenium kedua SM (Sebelum Masehi), perkiraan ini karena ruam smallpox yang ditemukan pada tiga mumi di era tersebut. Seandainya manusia sudah dimumifikasi sejak kemunculan pertama homo sapien pada 80 ribu tahun yang lalu, maka kita bisa dapati kasus smallpox tertua dan barangkali yang pertama.

Adapun, deskripsi tertulis paling awal tentang penyakit ini muncul di Cina pada abad ke-4 M. Deskripsi tertulis awal juga muncul di India pada abad ke-7 M dan di Asia Kecil pada abad ke-10 M. Penyebaran smallpox meluas secara global sejalan dengan pertumbuhan dan penyebaran peradaban, eksplorasi, dan perluasan rute perdagangan manusia kuno selama berabad-abad. Dari sini kita bisa pastikan kalender upaya manusia hidup bersama penyakit ini.

• Abad ke-6 – Peningkatan perdagangan dengan Cina dan Korea memperkenalkan smallpox ke Jepang.
• Abad 7 – Ekspansi Arab menyebarkan smallpox ke Afrika utara, Spanyol, dan Portugal.
• Abad ke-11 – Perang Salib selanjutnya menyebarkan smallpox di Eropa.
• Abad 15 – pendudukan Portugis memperkenalkan smallpox ke Afrika bagian barat.
• Abad ke-16 – Kolonisasi Eropa dan perdagangan budak mengimpor smallpox Afrika ke kepulauan Karibia, Amerika Tengah, dan Selatan.
• Abad 17 – Kolonisasi Eropa mengimpor smallpox ke Amerika Utara.
• Abad ke-18 – Eksplorasi oleh Inggris memperkenalkan smallpox ke bangsa Aborigin Australia.

Smallpox adalah penyakit yang mematikan. Rata-rata, 3 dari setiap 10 dari konsentrasi wabah itu tersebar di suatu tempat akan meninggal. Selain mortalitas yang tinggi, mereka yang selamat biasanya ada bekas luka, yang terkadang parah.

Dari hubungan panjang selama 12 ribu tahun itu, manusia mulai mencari cara menghindari smallpox, salah satu metode pertama untuk mengendalikannya adalah penggunaan variasi. Dinamai dari nama virus yang menyebabkan smallpox (virus variola), variolation atau inokulasi adalah proses dimana bahan dari luka smallpox (pustula) diberikan kepada orang-orang yang tidak pernah menderita smallpox.

Cara ini dilakukan dengan mengoles bahan ke luka goresan sengaja di lengan atau menghirupnya melalui hidung. Dengan kedua jenis varisasi ini, orang biasanya mengembangkan gejala yang berhubungan dengan smallpox, seperti demam dan ruam. Namun, orang meninggal lebih sedikit, wabah smallpox bisa diatasi secara alami.

Lalu selama berlangsungnya revolusi industri di Inggris, pengetahuan vaksinasi mulai dikejar lebih jauh. Pada 1796 seorang dokter Inggris bernama Edward Jenner menguji teori imunisasi Cowpox atau Smallpox sapi, pada seorang anak bernama James Phipps, putra dari tukang kebun Jenner. Jenner mengambil bahan dari smallpox sapi dan menyuntikkannya ke lengan Phipps. Beberapa bulan kemudian, Jenner sengaja menyuntikan smallpox manusia ke James, tapi si James ini tidak pernah kena smallpox. Lalu pada 1801, Jenner menerbitkan risalahnya “On the Origin of the Inoculation Vaksin,” di mana ia merangkum penemuannya dan menyatakan harapan bahwa “smallpox, momok paling mengerikan dari spesies manusia, harus hancur selamanya, dan vaksin ini akan mengakhiri nasib mereka.” Vaksinasi Jener lalu diterima secara luas dan secara bertahap menggantikan praktik variolasi. Berkat Jenner kini Smallpox hanya menyerang sporadis, dan langsung diatasi. Tidak ada lagi urusan Smallpox dengan manusia modern.

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!